Pos: Pasukan Militer China Menggunakan Virtual Reality Untuk Meningkatkan Kesiapan Tempur Mereka

Pasukan Militer China Menggunakan Virtual Reality Untuk Meningkatkan Kesiapan Tempur Mereka

Pasukan terjun payung (paratroopers) di China beralih ke virtual reality untuk mencoba meningkatkan kesiapan tempur mereka. Komando militer juga mengalihkan fokus pelatihan dari model Rusia ke model Amerika yang sekaligus membantu dalam mengatasi kurangnya pengalaman tempur nyata.

Penekanan lama Rusia dalam mempromosikan pasukan terjun payung elit sedang digantikan oleh pelatihan gaya Amerika yang menekankan operasi gabungan dan teknologi baru, kata pakar militer China.

Surat kabar militer China PLA Daily pada hari Senin memuat laporan tentang satu brigade pasukan payung yang baru direkrut telah menyelesaikan penilaian sementara mereka bulan lalu.

Komandan Brigade mengatakan bahwa semua anggota baru telah melalui pelatihan terjun payung menggunakan virtual reality (VR) untuk pertama kalinya, dan puas dengan hasilnya.

“Pelatihan lintas alam VR sangat fleksibel dalam simulasi lepas landas dan pendaratan serta beberapa situasi darurat [dan pengalaman] yang sangat nyata, memungkinkan saya untuk menjalani dan mempelajari keterampilan dasar dan teori pengalaman mengudara,” menurut Zhang Chuxuan.

Laporan tersebut mengatakan VR sangat cocok untuk rekrutan baru karena generasi muda “pasca-2000” lebih mudah menerima penggunaan teknologi dan metode pelatihan baru.

Tidak seperti rekan-rekan Amerika dan Rusia mereka, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) tidak memiliki pengalaman tempur yang nyata karena negara tersebut tidak terlibat dalam konflik besar sejak perang Korea pada 1950-an. Sejak itu, China hanya terlibat dalam perang perbatasan China-India yang jauh lebih kecil pada tahun 1962 dan perang China-Vietnam pada tahun 1979.

Pakar militer yang berbasis di Beijing Zhou Chenming mengatakan pasukan terjun payung PLA sedang dalam transisi dari pengaturan pasukan elit infanteri ringan Rusia ke model korps lintas udara Amerika, dibangun di atas desain pasukan lintas udara khusus independen yang menekankan kerja sama di antara unit-unit angkatan bersenjata yang berbeda dalam operasi gabungan.

“Konsep tempur antara pasukan udara Rusia dan Amerika sangat berbeda,” kata Zhou, menambahkan bahwa PLA bertujuan untuk belajar dari model AS.

Di AS, korps lintas udara dan rekan-rekan angkatan lautnya telah lama menggunakan teknologi virtual reality dalam pelatihan mereka. Menurut sebuah laporan bulan lalu di Army Times, Angkatan Darat AS telah menyelesaikan uji lapangan pertama dari kacamata do-it-all yang ditingkatkan dan dapat diterima tentara tahun depan.

Komentator militer dan mantan instruktur PLA Song Zhongping mengatakan pelatihan VR PLA dapat dilihat sebagai tambahan bagi anggota baru untuk membantu mereka mengatasi beberapa ketakutan dalam terjun payung.

Virtual reality telah menjadi metode pelatihan yang populer karena kemudahannya dalam mensimulasikan berbagai lingkungan dan kondisi cuaca, tetapi tidak mungkin membiarkannya menggantikan pelatihan yang sebenarnya,” katanya.

PLA juga telah menggunakan teknologi VR untuk melatih taruna pilot dalam beberapa tahun terakhir, menurut laporan sebelumnya oleh PLA Daily dan kementerian pertahanan China.

Sumber

Gilang Perdana

Gilang Perdana